Bunga Merah Morru

    “Grrrr, haiirrrrrr,, haiyahhhh” suara nyanyian para pemuda-pemuda kekar Suku Morru menambah semaraknya upacara pengangkatan kepala suku baru, tak lain adalah putra semata wayang Sen Reu. Sen Reu yang merupakan kepala suku lama meninggal dunia karena sakit. Sen adalah panggilan hormat kepada petinggi-petinggi di Suku Morru. Suasana perayaan sangat ramai,anak-anak kecil berlarian ke sana ke mari dengan kaki terbuka. Gadis-gadis perawan membantu para wanita tua menyiapkan hidangan untuk para lelaki. Daging rusa guling yang bau asapnya sungguh membuat lidah tidak berhenti berliur. “Inipesta besar” seru Wibe sambil menepuk pundak Beanal yang sedari tadi memperhatikan Wedori kemanapun ia berjalan. “Yeah, pesta untuk kepala suku barukita” jawab Beanal tanpa melihat kawannya itu. Pandangannya sekarang tertuju pada Missael yang murung. Upacara yang meriah untuk dirinya tak membuat bahagia. Ya, dia adalah kepala suku termuda yang pernah diangkat. Sebelumnya sang ayah diangkat menjadi kepala suku Morru pada usia 40 tahun yang saat itu Missael masih berusia belum genap satu tahun. Wibe yang merasa tidak digubris Beanal akhirnya membentak “Hey kau ini ada apa” sambil ikut memandangi Missael.“Kenapa dia tu ?” lanjut Wibe. “Entahlah, terlalu  berat baginya. Bagaimanapun dia masih seusia kita, aku yakin dia masih ingin menari-menari di rumputan seperti kita saat upacara, berburu, dan menaiki bukit terjal” jawab Beanal. Upacara telah selesai,para Tetua dan Sen Missael naik ke Azkar, sebuah pondok yang digunakan para Tetua dan petinggi Suku untuk berdiskusi atau sekedar berbincang. Dan semua warga suku telah kembali ke rumah masing-masing yang berada di atas pohon.

    Suasanya sangat sejuk, Wibe merebahkan tubuhnya yang hitam legam ke sabana yang rimbun.Lelaki Suku Morru selalu bertelanjang dada. Beanal hanya berdiri dan memandangi sabana luas. “Ayo kita sudah lama tak ke Alas Karia, aku ingin mencari bekicot untuk makan keluargaku nanti” ajak Beanal. “Kenyang aku hari ini makan bekicot”celoteh Wibe dan Beanal tak menggubris, sibuk menelisik dedaunan untuk menemukan bekicot lebih banyak. Merasa sudah cukup, mereka lanjut berjalan-jalan di hutan lebat itu. Alas Karia adalah hutan keramat bagi SukuMorru. Di Hutan ini terdapat satu kawasan yang hanya boleh dimasuki oleh laki-lakidan perempuan yang sudah menikah. Tak sengaja mereka tiba di kawasan tersebut,pintu masuk kawasan itu berupa 2 pohon kayu putih rimbun yang melengkung alami seakan sengaja dibuat sebagai gerbang. “Hey, jangan masuk ke sana” Wibe menarik pundak Beanal. “Kau harus menikah dulu baru boleh masuk ke sana” “Ya, aku tahu”jawab Beanal. Beanal sangat penasaran, sejak kecil ia menanyakan apa yang ada di dalam sana kepada ibunya namun tak ada jawaban yang memuaskan.

    “Apakah kau sudah menemui Missael ?”tanya Ibu Beanal padanya ketika sedang melahap nasi jagung dan bekicot hasil dari hutan tadi. “Belum Biy” “Kau harus segera temui dia, aku rasa dia sangat membutuhkan kawannya, dia akan segera menikah” lanjut Ibu Beanal. “Iya aku sudah menduga, dia akan segera menikah karena statusnya sebagai kepala sukusaat ini, esok akan kutemui dia”. Beanal berjalan menuju rumah Sen Missael dengan tas blarak di pinggangnya. Ia mendapati Missael yang sedang duduk sila di rumahnya, sendirian. Beanal tanpa berkata langsung duduk di dekatnya. “Aku tidak mencintainya, bagaimana bisa menikah dengannya” kata Missael sambil memandangi Beanal. “Aku harus menikahi gadis perawan yang sudah lulus dalam ujian pengasingan, kau tau kan siapa itu”. Beanal terbelalak dan terdiam, hanya satu gadis yang sudah lulus ujian itu saat ini. Dan ia adalah gadis yang selama ini selalu Beanal perhatikan. “Wedori, aku harus menikah dengannya, kau tau siapa gadis lain yang selama ini mau aku kenalkan dengan mendiang Bapa” lanjut Missael. “Tapi kau tak bisa mengelak keputusan para Tetua, Lodia belum lulus pengasingan itu dan jika menunggu ujian pengasingan, kau akan menunggu setahun,itu tidak mungkin” “Sejak kapan Beanal peduli dengan kata-kata Tetua” jawab Missael. “Aku hanya tidak ingin kau mengecewakan mendiang Bapamu dan Tetua disuku kita. Kau tau apa akibatnya jika menikah dengan gadis yang belum lulus pengasingan” jawab Beanal dengan nada tegas. “Aku harap kau belajar mencintai Wedori, demi suku kita” “Lalu bagaimana dengan kau” tanya Missael. “Jangan pedulikan aku” Beanal pergi meninggalkan Missael yang sedang merenungi perbincangan dengan kawannya itu.

            Upacara pernikahan pun digelar.Seluruh warga Suku Morru tampak gembira, upacara diiringi nyanyian dan sajian yang sangat enak. Namun wajah kedua mempelai jelas menunjukkan kecemasan. Sebuah tradisi Suku Morru yang dipercaya akan memberikan kebahagiaan dalam pernikahanya itu mereka akan tinggal berdua di kawasan terlarang dan hidup berdua selama 3bulan. Setelah upacara pernikahan selesai, dilanjutkan pelepasan kedua mempelai. Mereka berdua berjalan bergandengan menuju Alas Karia dan hanya dibekali oleh sebilah belati turun temurun dari kelurga Missael. Warga Suku Morru sangat terlihat bahagia, kepala sukunya telah menikah. Para tetua yang akan menggantikan tugas Sen Missael selama pengasingan.

    Keseharian Suku Morru adalah berburu dan bercocok tanam. Beanal dan pemuda-pemuda lainnya pergi berburu setiap seminggu sekali. Hari itu Suku Morru digegerkan dengan wanita yang tiba-tiba menderita penyakit kulit. Kulitnya memerah dan yang lebih parah muncul bentol dan menjadi borok. Warga suku tidak tahu menahu asalnya darimana, penyakit itu muncul pertama kali dari wanita tua yang sehari-hari menjual hasil pertanian di suku-suku lain. Semakin hari banyak sekali yang tertular penyakit itu. Tabib-tabib di suku itupun hanya bia berusaha untuk terus mengobati. Semua warga yang terkena penyakit dikurung di pondok. Hampir seluruh wanita tua di suku Morru tertular penyakit tersebut karena keseharian mereka yang selalu berkumpul bersama tak terkecuali ibu Beanal dan Wibe serta beberapa gadis dan anak kecil lainnya. Selama satu bulan ini para tabib tidak berhasil menemukan obatnya. Sedangkan dalam pondok itu sudah ada lima wanita yang mati karena penyakit itu. Ketiadaan kepala suku membuat Tetua-Tetua bersitegang, bagaimana mengatasi wabah penyakit ini. Jika dibiarkan wabah ini akan terus menyerang seluruh warga Suku Morru dan akan banyak korban meninggal. Beanal kali ini sangat cemas, sangat kebingungan, ia tak ingin kehilangan ibunya, begitupun dengan Wibe. Semakin hari semakin banyak warga yang meninggal di pondok itu. Penyakit kulit itu sangat cepat menggerogoti tubuh penderitanya.“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Wibe kepada Beanal yang sedari tadi termenung di bawah pohon. “Akankah ini akhir dari suku kita ? suku kita habis karena penyakit konyol ini” lanjut Wibe. “Kenapa kau diam saja, apa kau tak khawatir” bentak Wibe. “Aku harus menemui Tetua sekarang”. Beanal berlari dan Wibe menyusulnya. Dari kejauhan terlihat pria tua berambut putih mengkilap dan memakai tongkat berwarna hitam berjalan tertatih dituntun dua pria paruh baya,semua warga Suku Morru menyaksikan kedatangan Tuan Agung, warga biasa sangat takut padanya karena kekuatan yang dimiliki Tuan Agung. Tuan Agung adalah sebutan orang yang menghabiskan hidupnya untuk bertapa dan menjaga tempat leluhur para Dewa. Tuang Agung dengan bersusah payah naik ke Azkar dan disambut oleh tetua-tetua. Hanya momen yang penting saja ia mau datang ke Suku Morru seperti saat kremasi kepala suku Sen Reu. “Aku sudah mendengar tentang wabah itu, kalian tidak akan bisa menyembuhkannya dengan obat-obatan biasa. Penyakit itu muncul karena sifat buruk salah satu warga Suku Morru, Dewa memperingatkan kalian” ucap Tuan Agung membuka pembicaraan. “Aku bertapa dan dalam tapaku aku selalu mendengar suara Dewa, Dewa menunjukkan aku setangkai bunga merah, dan itu adalah obat untuk segala penyakit manusia” “Namun banyak sekali bunga merah yang ada di hutan, bahkan di sekitar pemukiman ini, bunga yang seperti apa,sulit menemukan bunga yang tepat” “Selalu ada harapan jika kau meminta petunjuk pada Dewa” jelas Tuan Agung

    Sejak saat itu seluruh lelaki Suku Morru mencari dan membawakan seluruh bunga merah dan memberikannya kepada tabib untuk diramu menjadi obat, namun tidak ada tanda-tanda kesembuhan bahkan selama 2 bulan terakhir banyak sekali yang mati karena penyakit ini. “Missael, kau akan terkejut melihat wargamu nanti” batin Beanal sambil melinangkan air mata, ia sangat rindu ingin tinggal bersama ibunya. “Oh, Dewa aku selama ini tidak percaya dan menganggap kau sebagai omong kosong para Tetua, aku mohon, aku ingin senyum Ibuku kembali” Beanal pun terlelap dengan perasaan pasrahnya. Dari kejauhan ia melihat sosok Wedori,pujaan hatinya sedang melambai. Beanal bangun dan mengikuti Wedori, ia sangat berbeda, sangat cerah, tersenyum manis tidak seperti saat hari pernikahannya.Ia berjalan menuju Alas Karia dan tiba di gerbang kawasan terlarang. Beanal berhenti, namun Wedori menarik tangannya masuk ke kawasan terlarang itu. Lalu tibalah di depan pohon beringin purba yang sangat besar, kali ini Beanal tahu apa saja yang ada di kawasan itu. Batu berbentuk dipan yang sangat besar,pohon-pohon beringin, danau kecil yang jernih hingga ikan-ikan bisa tersenyum kepadanya. Pohon itu adalah pohon yang menjadi dongeng ibu-ibu kepada anak-anaknya. Pohon itu sangat sejuk, bagi siapa saja yang duduk dibawahnya akan merasakan kedamaian yang tiada tara. Pohonnya basah dan berlumut, daunnya hijau, akarnya dan rantingnya seakan menyambut para pasangan yang diasingkan disana. Pohon yang disakralkan penduduk Suku Morru, selama pohon itu ada selama itu pula penduduk Suku Morru akan damai dan bahagia.

    Wedori bersimpuh di bawah pohon itu, Beanal hanya memadangi wanita pujaannya. Wedori menghilang, dan muncul bunga merah bercahaya masuk ke dalam pohon purba itu. Beanal berteriak, dan bangundari mimpinya. Senja menyinari tubuhnya yang berkeringat, ia berlari menemui para tetua dan hendak menceritakan mimpinya. “Obat itu tersimpan di dalam pohon yang ada di kawasan terlarang tempat pengasingan para pasangan pengantin, kita harus menggalinya” kata Beanal terengah-engah. “Apa kau sudah gila, pohon itu tidak boleh disentuh oleh siapapun, jika pohon itu tidak ada suku kita akan musnah kau tahu” jawab Tetua. “Tapi aku melihat jelas sekali dalam mimpiku”“Itu hanya mimpi konyolmu saja, buang jauh-jauh mimpi kosongmu anak muda, lebih baik kau membantu para laki-laki mencari bunga merah itu sampai semuanya habis.Dengan wajah yang merah padam ia berjalan hingga tanah bergetar karena merasa direndahkan oleh para Tetua. Di depan rumahnya, Wibe menunggu sedari tadi. “Kau kenapa ?”. Beanal menceritakan semua apa yang dilihat dari mimpinya. “Tapi jika mimpimu itu salah, bagaimana ?” Beanal berpikir “Aku yakin”.

    “Kau tahu apa akibatnya jika kita masuk ke kawasan itu” tanya Wibe “Entahlah, aku siap menerima akibatnya” jawab Beanal sambil berjalan cepat dan membawa kapak. Setibanya di depan gerbang pohon kayu putih, mereka berdua berpandangan. “Ayo” ajak Beanal. Mereka berjalan masuk kedalam kawasan terlarang itu, dan apa yang dilihatnya seperti apa yang ada dalam mimpinya. Mereka mendengar suara manusia. “Itu pasti Missael dan Wedori,tak apa ayo kita temui mereka” kata Beanal. Missael mengetahui kedatangan dua perjaka itu. Missael dan Wedori sedang berada di dipan batu besar di dekat pohon purba. Beanal dan Wibe menyaksikan malam madu mereka. Merasa terusik, Missael berkelahi dengan Beanal dan Wibe karena masuk ke daerah terlarang untuk mereka. Wibe terkena tusukan belati Missael. Beanal marah dan menghantamkan kepala sukunya ke batu besar.

    “Apa yang kau lakukan ?” teriak Wedori. Beanal tak mengindahkan teriakan Wedori, ia mengayunkan kapaknya dengan keras, pohon yang begitu besar tumbang oleh kekarnya tangan Beanal. Namun, iatidak mendapati bunga merah yang ada di mimpinya. Beanal duduk di samping Wibe merasa kecewa dan Wedori hanya memandanginya. Di bekas pohon itu muncul sumber air yang berkilau seperti permata, Beanal hanya memandanginya, ia telah merobohkan pohon sakral suku Morru dan tidak mendapatkan apa-apa. Beanal mendekati Wibe dan mengambil air itu dengan dedaunan untuk membasuh lengan Wibeyang berdarah. Seketika, Wibe tak merasakan sakit lagi. “Oh Dewa ini jawabanmu.Kawan, kita menemukan obatnya, kita berhasil, ayo kita segera obati Ibu kita”Beanal dan Wibe tersenyum bersama. “Bawakan ini untuknya” Beanal menyerahkan air kepada Wedori untuk Missael. “Kau sangat percaya Dewa rupanya sekarang”“Ya, kau lihat saja” jawab Beanal tersenyum.

  • Share:

ARTIKEL TERKAIT

0 COMMENTS

LEAVE A COMMENT