Tugas Filsafat : Ngelmu iku kelakone kanthi laku

Petunjuk Tugas


Membuat laporan dengan judul bebas dari hasil mempelajari filsafat, yang berisi catatan-catatan membaca referensi filsafat baik buku, jurnal filsafat, video filsafat, kuliah filsafat dari Prof. Marsigit, Website dan FB Marsigit Hrd. Termasuk bedah RPS Filsafat yg ada di https://uny.academia.edu/MarsigitHrd.

Bentuk dokumen             : Pdf.

Format                               : Tugas 3_Nama_30 September 2020.

Maksimal Pengumpulan : Rabu, 30 September 2020

 

Berdasarkan refrensi yang telah Prof. Marsigit berikan pada perkuliahan hari Kamis 17 September 2020, maka menghasilkan beberapa catatan penting yang tersusun menjadi beberapa tulisan berbentuk paragraph singkat dengan judul “Ngelmu iku kelakone kanthi laku” yang diperoleh dari berbagai sumber yang telah dibaca dan disimak, baik dari Artikel yang dikirimkan melalui WhatsApp, artikel di Laman Facebook dan Website, serta Video di Channel Youtube yang dimiliki oleh Prof Marsigit.

 

Ngelmu iku kelakone kanthi laku

( Menguasai ilmu itu tercapainya melalui proses )

• • •

Nur Anisyah Rachmaningtyas

Program Pascasarjana Penelitian dan Evaluasi Pendidikan

Universitas Negeri Yogyakarta

• • •

    Filsafat membuat kita semakin bingung dengan apa yang sebenarnya dibahas, berputar pada poros utama dan saling berkesinambungan seakan tidak ada batasannya. Namun kembali pada kunci utama dalam berfilsafat, yaitu ruang dan waktu. Filsafat membuat kita mampu sadar diri dengan apa saja yang telah berlaku dalam hidup kita, dari mengapa kita harus hidup, memilih dan dipilih hingga suatu kehidupan setelah hidup. Suatu proses hidup adalah tabungan kita dalam mengukir suatu pengalaman atau cerita hidup. Pengalaman manjadi suatu saksi proses dalam menggali ilmu jika kita mampu memaknai suatu peristiwa ataupun kejadian yang berlaku dalam hidup kita. Kita mampu menjalahi hidup dengan mudah karena kita mampu membantuk atmosfer yang tepat dalam diri kita sehingga hidup terasa lebih hidup. Kita harus berhati-hati dalam memilih langkah kedepan, dalam berpikir, dalam berbicara/ berpendapat untuk tidak sesuka diri kita sendiri. Hal tersebut meminimalisir apa yang akan kita terima dan orang lain terima atas perbuatan kita dari sisi baik maupun tidak baik. Sederhananya dalam kita menjaga perasaan orang lain karena diri kita yang menuntut orang lain untuk masuk dalam frekuensi yang sama dengan diri kita.

    Selain itu, pentingnya untuk menjadikan peristiwa yang telah berlalu menjadi suatu pembelajaran untuk diri kita, hidup harus tetap berjalan dan linier. Apapun yang telah terlewati tidak akan kembali lagi, yang lalu dapat berubah menjadi seperti sekarang, dan yang sekarang akan berubah pula untuk masa yang akan datang. Perlunya kita mengingat hanya Dia tempat kita kembali untuk menggantungkan semua perubahan. Teralu sering kita diberikan ruang untuk memahami hidup namun kita yang tidak punya waktu untuk memaknanya,  terlalu sering kita diberikan waktu untuk menjalani hidup namun kita juga yang tidak punya ruang untuk menikmatinya. Keduanya haruslah ada dan saling melengkapi, agar kita tau apa penyebab kita harus hidup dan mengapa kita dihidupkan sampai sekarang ini.

    Dalam ruang mengapa kita diberikan waktu untuk hidup, disitulah kita diberikan porsi untuk selalu bersyukur apapun keadaanya. Kita tidak pernah terlahir miskin, kita juga tidak pernah terlahir dalam kekurangan, kita hanya terlalu focus dari apa yang kita dapati tanpa melihat dengan ikhlas sisi lain yang sebenarnya telah kita genggam setiap hari. Banyak sumber daya alam disekitar kita yang mampu kita lihat dengan mata telanjang, banyak oksigen gratis yang telah kita hidup, banyak sel dalam tubuh kita yang mempu menggerakkan diri sukarela bekerjasama dengan otot dan sendi. Lalu apa yang kita sebut miskin dan kekurnagan? Ya itu hanyalah rasa diri yang tidak pandai bersyukur dan menganggap ada apa yang kita punya. Rasa ikhlas juga menjadi salah satu rasa wujud diri kita untuk pansai bersyukur apapun keadaannya, karena dengan bermodalkan ikhlas mampu menjadikan langkah awal, proses, tujuan hingga hasil menjadi lebih baik dari hidup kita.

    Inilah proses yang sedang kita jalani, banyak membaca dan membuat diri kita semakin tidak mengerti untuk dipahami, banyak bergaul dan berinteraksi dengan orang lain yang membuat diri kita semakin tidak karuan karena bertemu dengan berbagai watak dan kebiasaan diluar diri kita, banyak kejadian dan tuntunan yang Allah berikan membuat diri kita semakin tidak berdaya dan sadar tidak punya apa-apa dengan semua yang telah digariskan pada kita, apalagi ketika kita tak lagi mau berusaha dan berdoa. Selain itu, kita hidup juga harus bahagia dengan meniatkan, memikirkan, mengusahakan, memprogramkan, memperjuangkan, mensyukuri hingga melangitkan semua hal yang telah ada dalam proses hidup padaNya. Tidak terlepas dari rasa sadar diri untuk selalu ikhlas menjalani kehidupan yang didukung dengan pikiran positif dan senantiasa berusaha menggapai ridhoNya. Kita hidup seringkali terforsir pada pikiran kita sendiri, sehingga kita tenggelam dalam ketakutan diri untuk berhasil, terjerumus dengan suasana hati yang bimbang dan kekuatan spiritual yang melemah. Ituah sebenarnya radikalisme terdekat yang kita dapat temui selain radikalisme yang viral dan sedang membumi yaitu NKRI = harga mati. Oleh karenanya, muncul persepsi-persepsi dalam diri memang sangatlah penting untuk menghargai diri sendiri atas apa saja yang telah mampu dicapai sampai titik ini.

    Disamping hal itu, ilmu mengalir begitu saja dengan mudahnya, ketika kita mau membuka diri untuk menelaah perlahan, membaca apa maunya dan mengambil hikmah dari intisari apa yang sudah kita terima dalam pikiran kita. Ilmu akan menemani langkah kita setiap saat ketika kita mampu mendalaminya, ketika kita mau menerimanya dengan senang hati dan ikhlas diri, ketika kita selalu menganggap diri selalu haus akan suatu penerimaan dalam berpikir, ketika kita mulai melemah dan layu seakan tidak ada hal yang mampu menyegarkan hidup kecuali ilmu. Namun, kita juga harus mampu memahamkan pada diri kita, dengan ilmu bukan menjadikan kita menjadi hebat menghebati, bukan menjadikan kita meroket tak membumi, bukan menjadikan kita seperti kembang tebu kabur kanginan, namun haruslah menjadi padi yang selalu merunduk dengan kegagahan isinya.

    Sampai disini, dalam berfikir secara filsafat, kita mulai flashback dan muncul pikiran “eh ternyata iya ya” muncul rasa penasaran dan kepercayaan pada logika kita dari apa yang sudah berlaku dalam hidup kita. Dari masalah matematika secara teori hingga penerapan dalam hidup bermasyarakat, hidup dengan alam, hidup dengan rasa dan karsa hingga hidup dengan Allah yang kita wujudkan dengan ibadah. Simpel sepertinya, namun jika dikupas hingga dalam, otak kita terasa cetek untuk mencernanya “ternyata aku sebenernya ngga tau apa appa”. Banyak hikmah dari berbagai contoh yang dituliskan dalam artikel milik Prof. Marsigit, mudah dipahami dan logis ketika kita dihadapkan dalam hal yang nyata. Paparan tulisan yang disusun dalam bentuk percakapan tokoh pewayangan, bagi diri saya sendiri menjadi suatu kemudahan dalam memahami maunya dan alur pikirnya penulis. Pembahasan didalamnya ringan dan hal hal kecil yang muncul dalam proses kehidupan kita. Catatan penting yang menjadi hikmah berfilsafat yaitu (1) Hati-hati dalam berpendapat, bertuturkata dan bersikap, (2) Banyak hal yang tidak kita sadari namun penting menjadi penopang kehidupan, (3) Pentingnya hidup berlandaskan keikhlasan, jernihnya pikiran dan ketentraman hati, (4) Berani berproses untuk mendapatkan ilmu dan ridhoNya, (5) Peka terhadap diri sendiri, manusia, alam, dan Allah.



Tugas Filsafat : Mengajukan 3 Pertanyaan
Tugas Filsafat : Apa yang kita tau itu tak kita tau
Tugas Filsafat : Mengajukan Minimal 20 Pertanyaan Tugas Filsafat : Paham karena Minat, Mengerti karena Terpikat

ARTIKEL TERKAIT

1 COMMENTS

Ayusman Al Fatih, 26 Sep 2020 15:56:29

Ya pak

LEAVE A COMMENT