Sabtu(27/9) siang saya mengayuh sepeda ke Museum Multatuli. Awan kelabu mulai menyelimuti langit, dan udara semakin membuat badan gerah. Sepeda saya senderkan di pagar toko museum dan saya duduk di kursi besi panjang. Tak berselang lama satu per satu kawan mulai hadir. Hujan gerimis sempat turun sebentar saat kami sedang berbincang dan menunggu kawan yang belum hadir. Mobil elf yang kami pesan telah sampai dan parkir di jalan sebelah selatan museum. Setelah personel hadir semua, kami mulai memasukan barang yang akan dibawa ke mobil. Pukul 14.15 kami berdelapan masuk ke mobil dan mobil pun meluncur meninggalkan museum.
Kami berkumpul dalam rangka peringatan satu tahun Baca di Rangkas. Hari Rabu yang lalu, kami bersepakat untuk mengunjungi Taman Baca Multatuli. Tempat ini terletak di Kampung Ciseel, Desa Sobang, Kecamatan Sobang, kabupaten Lebak. Berjarak sekitar 50 km dari Rangkasbitung dan terletak di kawasan Taman Nasional Halimun Salak. Taman baca ini didirikan oleh Kang Ubai pada tahun 2009 saat menjadi Guru di SMPN 3 Satap Sobang. Selain sebagai taman baca, tempat ini juga yang melahirkan ide Reading Group Max Havelaar yang saat ini diadopsi oleh baca di Rangkas. Karena lokasinya yang lumayan jauh dari pusat Kota Rangkasbitung, perjalanan menuju kesana akan lumayan memakan waktu yang panjang.
Mobil kami melaju ke jalan Djuanda, kemudian terus menuju ke arah Maja padahal seharusnya menuju ke arah tenggara Rangkasbitung. Kang Ubai pun menginformasikan bahwa mobil akan mengisi bahan bakar dahulu di SPBU Cisalam. Setelah mengisi bahan bakar, akhirnya mobil kembali ke jalan yang benar. Sepanjang perjalanan diisi dengan bertukar cerita, makan, karaoke sembari menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Pemandangan yang nampak berupa kebun kelapa sawit di sekitar Rangkasbitung, genangan Waduk Karian pun terlihat saat sudah memasuki wilayah Sajira. Setelah sekitar satu jam perjalanan, kami pun sampai di Terminal Ciminyak yang berjarak sekitar 35 km dari Rangkasbitung
Mobil elf yang kami sewa hanya mengantarkan hingga Terminal Ciminyak karena jalur berikutnya lebih kecil dan terjal. Barang-barang diturunkan dan dikumpulkan di satu tempat, di pinggir terminal, di depan toko yang sudah tutup. Beberapa kawan menuju toko yang masih buka dan belanja kebutuhan selama di tujuan. Saya dan Kang Ubai mendapat tugas menjaga barang sembari duduk dan menikmati jeruk. Saat yang lain sedang asyik belanja tak lama berselang mobil pengganti datang juga. Dikemudikan oleh Jawir, salah satu murid Kang Ubai waktu masih mengajar di SMPN 3 Satap Sobang.
Kami segera naik dan memilih posisi duduk masing-masing diantara barang-barang. Kami sengaja memilih mobil pickup untuk meneruskan perjalanan karena medan yang sempit dan terjal. Mobil ini milik warga setempat sehingga mereka sudah mengenal medan dan ahli dalam menaklukan jalan yang terjal. Mobil melaju ke arah barat, menuju arah SMPN 1 Muncang. Jalanan berupa aspal halus dan sudah mulai sempit. Sesampainya di depan SMP kami berbelok ke kiri, masuk ke jalan yang lebih sempit dan rusak dengan sisa-sisa aspal yang ada sampai di sekitar pemukiman.
Setelah melewati Kampung Coo, suasana semakin sepi. Sebelah kanan jalan berupa kebun di sekitar tebing. Sebelah kiri jalan berupa jurang yang nampak sungai di bawahnya. Awan kelabu beserta air hujan akhirnya turun saat kami melawati jalan ini. Beruntung tak jauh dari sini ada perkampungan penduduk yaitu Kampung Cangkeuteuk. Mobil pun menepi di depan salah satu warung dan kami turun untuk berteduh. Setelah hujan reda, kami melanjutkan perjalanan, meninggalkan Kampung Cangkeuteuk. Air hujan membuat batu-batu di jalan menjadi basah dan licin, namun tidak mengganggu laju roda mobil.
Mobil melaju dengan lancar walaupun bertemu turunan dan tanjakan yang lumayan curam. Mendekati Kampung Ciseel, Jawir memelankan laju mobil dan kemudian berhenti, tepat di samping sawah sebelum tanjakan. Ini merupakan tanjakan paling curam sebelum masuk kampung. Kemudian Jawir turun dan mengurangi tekanan angin pada keempat ban mobilnya. Hal ini dilakukan supaya roda bisa menapak ke jalan karena kondisi jalan yang tidak rata dan menanjak. Selain mengurangi tekanan angin, dia juga mengambil karung berisi batu split dan menaruhnya ke bak untuk menambah beban muatan mobil. Karung-karung ini berada di pinggir jalan, milik pemborong yang sedang mengerjakan proyek di madrasah.

Jawir sedang mengurangi tekanan angin pada ban sebelum melewati tanjakan.
Setelah persiapan selesai, mobil pun dinyalakan dan mulai bersiap melakukan pendakian. Percobaan pertama mobil berhenti di tengah-tengah tanjakan karena salah satu roda selip. Kami pun lumayan panik karena gesekan ban dan batu sampai mengeluarkan asap. Mobil pun dijalankan mundur kembali ke titik awal sebelum menanjak. Jawir begitu ahli terlihat dari cara dia yang sangat hati-hati dalam mengemudikan mundur mobil. Persiapan dilakukan kembali, mengurangi tekanan angin, menambahkan karung split lebih banyak karena Rizkoh dan Yuyun memutuskan untuk turun, mungkin mereka panik. Mobil melaju dengan 6 orang penumpang beserta barang dan karung split. Percobaan kedua kembali gagal dan mobil tidak berhasil menanjak di tempat yang sama. Demi keamanan bersama akhirnya kami memutuskan untuk turun.
Dari arah kampung ada kawan yang menjemput menggunakan motor untuk membawa barang. Kami melanjutkan dengan berjalan kaki sementara Jawir ditinggal bersama mobilnya. Beberapa kawan dari kampung juga sudah datang membantu. Sekitar 100 meter dari mobil berhenti, kami sudah bertemu rumah paling ujung di Kampugn Ciseel. Udara dingin selepas hujan dan suasana tenang begitu terasa. Nampak beberapa orang sedang berada di teras rumah datang menyambut kami, apalgi saat menjumpai Kang Ubai. Suasana haru dan bahagia nampak di wajah setiap orang yang kami temui. Akhirnya kami sampai di Taman Baca Multatuli dan disambut riang oleh anak-anak yang sudah berkumpul sejak siang.

Suasana taman baca saat anak-anak Ciseel sedang asyik membaca buku baru.
Keramaian sore itu mulai berkurang saat adzan magrib berkumandang. Mereka bergegas pulang dan bersiap menuju masjid untuk salat berjamaah dan mengaji. Selepas magrib mereka kembali lagi ke taman baca. Satu dus buku yang kami bawa dari Rangkas dibongkar dan langsung diserbu oleh anak-anak. Mereka sangat antusias untuk memilih buku dan membacanya. Tak terasa waktu begitu cepat, jam sudah menunjukan pukul 21.00 dan anak-anak masih begitu semangat membolak-balikan buku. Kami meminta mereka untuk pulang dan bisa kembali lagi esok hari. Sisa malam kami habiskan dengan berbincang santai dengan iringan banjari dari rumah sebelah yang sedang ada latihan banjari. Pukul 01.00 lampu kami padamkan dan merebahkan badan untuk istirahat.
Selepas subuh kami berjalan menikmati udara pagi dengan menyusuri jalan dari Ciseel menuju Cigaclung. Disana kami mampir ke SMPN 3 Satap Sobang, tempat Kang Ubai pernah menjadi Guru dari 2009 hingga 2017. Sempat mampir dan berbincang dengan penjaga sekolahnya. Duduk-duduk di teras kelas sembari mendengarkan cerita pengalaman Kang Ubai saat menjadi guru. Setelahnya kami kembali lagi ke Ciseel dan berhenti di rumah Ali. Sebagian ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi dan sebagian berbincang di teras rumah. Mendiskusikan hal unik yang ditemukan saat berbelanja di Pasar Muncang yaitu penjual tidak akan melayani pembeli yang ingin membeli asam jawa jika sudah lewat asar. Ternyata fenomena ini hampir merata di daerah Muncang dan sekitarnya, termasuk di Sobang.

Anak-anak Ciseel sedang bermain di sungai.
Pagi itu kami masak nasi goreng, salah satu cara untuk menghabiskan nasi yang dimasak semalam. Setelah makanan disantap habis, anak-anak sudah berkumpul untuk bermain. Kami menuju ke arah Kampung Babakan Aceh dengan menyusuri jalan di depan taman baca. Dengan jarak sekitar 500 meter kami sudah sampai di kampung tersebut. Di ujung kampung melewati jalanan setapak, menuju area pesawahan. Berjalan terus sampai di pinggir sungai dan kemudian menyeberangi jembatan bambu. Sungai disini bersih, walaupun airnya tidak bening. Nampak juga petani yang sedang ada di sawah. Setelah menyeberang kami masih harus melewati pematang sawah untuk sampai di tempat tujuan. Anak-anak langsung melepas sandal dan baju kemudian meloncat ke air.
Setelah puas bermain air, kami balik ke taman baca dengan baju basah. Anak-anak kembali ke rumah masing-masing untuk ganti baju, kami langsung ke taman baca. Merebahkan badan sembari menunggu giliran mandi karena hanya ada satu kamar mandi. Beberapa anak mulai datang kembali setelah mandi dan ganti baju. Mereka kembali memilih buku untuk dibaca dan memilih mainan yang ada di taman baca. Sekitar pukul 13.00 kami berpamtan untuk kembali ke Rangkasbitung dan menyempatkan foto bersama dengan anak-anak yang ada.

Foto bersama anak-anak di depan Taman Baca Multatuli sebelum balik ke Rangkasbitung.
Perjalanan ke Rangkasbitung kami tempuh kembali dengan pickup sampai di Terminal Muncang. Masih menggunkan mobil milik Jawir dan melewati jalanan yang sama dengan saat berangkat. Perjalanan pulang lebih lancar karena tidak ada tanjakan curam dan jalan kering. Setelah melewati Cangkeuteuk mobil kami mendapat penumpang tambahan, para petani yang pulang dari sawah, menumpang sampai kampung Coo. Kami pun tiba di Muncang dan diturunkan di Masjid Muncang. Mobil elf menju Rangkas pun sudha menunggu disana. Sebelum melanjutkan perjalanan kami mengisi perut di warung Bakso dan Mi Ayam. Setelahnya langsung masuk mobil dan menuju ke Rangkas. Perjalanan lancar dan tiba dengan selamat di Museum Multatuli. Kami pun berpisah menuju rumah masing-masing. Terima kasih kawan-kawan Baca di rangkas atas kebersamaan setahun ini. Sampai jumpa di perjalanan dan cerita berikutnya........