Hari 18 : Menggapai Puncak Sejati 3

    Setelah melewati 2 hari perjalanan yang saya tuliskan dalam Menggapai Puncak Sejati 1 dan Menggapai Puncak Sejati 2 kita akan memasuki medan yang berbeda. Tempat yang dipenuhi pepohonan hanya sampai di camp 9, setelahnya kita hanya akan berjumpa dengan pohon cantigi. Pohon ini tumbuh diantara bebatuan yang berada di puncak. Perlu diketahui juga bahwa gunung raung memiliki empat puncak yaitu Puncak Bendera, Puncak 17, Puncak Tusuk gigi dan yang terakhir Puncak sejati. Untuk sampai di puncak sejati kita harus melewati puncak bendera. Sementara untuk puncak 17 dan puncak tusuk gigi kita bisa melewatinya karena ada jalur mengitari puncak dan lebih aman.

    Puncak bendera merupakan puncak pertama yang akan kita temui setelah melewati semua camp. Di tempat ini terdapat bendera itulah mengapa disebut sebagai puncak bendera. Bendera ini juga digunakan sebagai tanda bahwa jalur yang benar menuju ke bawah ada disini. Dari tempat ini kita akan turun sedikit melalui bebatuan kemudian terus berjalan menuju puncak 17. Kondisi bebatuannya besar-besar serta kokoh dengan kerikil dan pasir di sekitarnya. Sebelah kanan dan kiri jalan merupakan jurang yang tinggi dan curam. Tampak di depan sudah menunggu tebing batu yang lumayan tinggi. Tebing ini memiliki sedikit celah dan kita harus melewatinya untuk menuju jalur berikutnya. Sebelum menuju puncak bendera semua peralatan(harnes, helm, carabiner) sudah dipakai dan siap digunakan. Sesampainya ditempat ini pemandu memasang tali yang akan kita gunakan untuk berpegangan. 

Tebing sekitar Puncak Bendera (2018)

    Satu per satu anggota kelompok mengaitkan carabiner ke tali dan menyeberang. Setelah menyeberang kita akan menaiki tebing batu yang lumayan terjal dan tajam. Diperlukan pegangan yang kuat dan keberanian supaya bisa sampai dibagian atas. Selanjutnya jalur berupa bebatuan disertai kerikil dan pasir. Tujuan selanjutnya adalah puncak 17 namun bisa juga kita mengitari puncak tersebut. Saat itu kami diajak untuk melewatinya, setelah dipasangkan pengaman menuju puncak kami bergantian satu-satu naik. Puncak 17 ini hanya berupa tanah lapang yang sempit dan terdapat plakat identitas. 

Menuruni Puncak 17 (2018)

    Perjalanan berikutnya adalah menuruni puncak 17 dengan turunan terjal serta jurang di samping kiri dan kanan. Proses turun memerlukan tali sebagai pengaman tambahan untuk berpegangan, satu per satu mulai turun. Tantangan selanjutnya adalah jalur sirotol mustakim, disebut demikian karena jalannya kecil dan berada diatas punggungan. Apabila kita mengitari puncak maka tidak akan bertemu jalur ini. Tubuh yang lumayan gemetar karena angin kencang mulai berhembus saat kami mulai berjalan. Di depan kita akan berjumpa dengan jalur yang mengitari puncak sebelum bertemu turunan. Untuk menuruni tebing ini dipasang tali sebagai bantuan untuk berpegangan. Jalan yang sempit membuat kita harus menunggu satu-satu. Sembari menunggu giliran kita sebaiknya duduk selain istirahat hal ini bisa mengurangi tekanan angin yang berhembus.

    Sesampainya di bawah kita akan bertemu bebatuan besar dengan warna agak putih. Jalur selanjutnya menuju puncak sejati adalah menyusuri bebatuan ini. Posisi kita yang berada dibawah mengharuskan kita untuk mendaki tebing bebatuan ini dengan hati-hati. Setelah agak ke atas kita akan melihat Puncak tusuk gigi yang berada di sebelah kiri, namun berbeda arah dengan puncak sejati. Arah menuju puncak sejati kita masih melewati bebatuan tadi. Jika akan menuju puncak tusuk gigi kita masuk melalui celah diantara bebatuan yang ada. Untuk menyingkat waktu disarankan menuju puncak sejati terlebih dahulu. Sesampainya di puncak sejati kita akan melihat hamparan kaldera aktif di depan kita. Saat itu cuaca sedang bagus sehingga kaldera tidak tertutup kabut dan terlihat jelas. Kami menyempatkan foto bersama sebelum perjalanan turun.


Jalur menuju Puncak Tusuk Gigi(2018)    

    Jalur untuk turun masih sama seperti saat naik yaitu melalui bebatuan menuju ke arah puncak tusuk gigi. Seperti yang direncanakan sebelumnya, setelah dari sini kami menuju puncak tusuk gigi. Sesampainya di persimpangan kami masuk melewati celah yang terbentuk diantara dua batu. Sembari beristirahat kami menyiapkan makanan untuk mengganjal perut karena belum makan pagi saat berangkat. Puncak tusuk gigi hanya berupa batuan panjang yang berdiri tegak sehingga disebut tusuk gigi. Hembusan angin di area ini sedikit berkurang karena terhalang bebatuan yang tinggi. Hari sudah mulai siang, kami melanjutkan perjalanan turun dari puncak ini menuju jalur semula.

    Tak lama meninggalkan puncak tusuk gigi  angin mulai berhembus kencang kembali. Mendekati puncak 17 kami memilih jalur mengitari puncak karena kabut mulai turun disertai gerimis kecil. Sore itu ada beberapa rombongan yang sedang turun juga sehingga jalan harus bergantian. Sembari menunggu antrean, jas hujan kami kenakan karena air semakin deras. Satu per satu bergantian melewati celah tebing seperti saat berangkat. Perasaan mulai tenang saat sudah mulai terlihat bendera yang berkibar ditiup angin di puncak bendera. Sesampainya di antara pepohonan hembusan angin sudah mulai berkurang, menyisakan hawa dingin yang serasa menempel. Sesegera mungkin kami bergegas menuju tenda yang berada di camp 7.

    Camp 7 tampak ramai dengan pendaki yang turun bersama kami maupun yang baru sampai. Setelah berganti pakaian kami masuk ke tenda untuk beristirahat. Menjelang malam kami bergegas masak untuk mengganti energi yang terkuras saat naik dan turun ke puncak. Malam ini lebih hening, masing-masing memutuskan istirahat untuk memulihkan energi sebagai bekal esok hari. Pagi hari setelah semua selesai sarapan pagi kami berkemas untuk persiapan turun. Perjalanan turun hanya direncanakan satu hari saja sehingga kami berangkat agak pagi. Sepanjang perjalanan alhamdulillah tidak menghadapi kendala hingga sesampainya di camp 3 hujan mulai turun. Sesegera mungkin kami mengenakan jas hujan dan melanjutkan perjalanan. 

    Kondisi hujan dan lingkungan yang lembab memicu pacet/lintah mulai keluar. Untuk menghindarinya kami mengurangi istirahat terlalu lama supaya tidak menempel ke badan. Hujan masih lumayan deras saat kami mendekati pos 1. Sembari menunggu yang belum sampai, kami disuguhi kopi lereng raung. Hujan mulai reda saat tukang ojek yang dipesan tiba, satu per satu menaiki motor dan diantar menuju basecamp. Sesampainya di basecamp kami membersihkan badan dan menyantap makan malam. Setelah itu aku langsung menuju ke stasiun menggunakan ojek karena esok hari ada egiatan lain. Aku memutuskan untuk pulang lebih awal, beberapa masih ada yang di basecamp dan pulang esok hari.

#menyusurisudutnegeri #28haribercerita


ARTIKEL TERKAIT

0 COMMENTS

LEAVE A COMMENT