Hari 5 : Sepeda Pinjaman

    Melanjutkan ceritaku yang kemarin, kali ini aku akan meneritakan awal perjalanan di surabaya. Sebenarnya tadi sudah tertulis panjang lebar sampai empat paragraf. Tapi kare satu dan lain hal kemudian lupa tidak disimpan akhirnya hilang. Aku akan mulai lagi namun bisa jadi agak berbeda dengan yang sudah hilang. Awal kehidupan di surabaya dimulai ketika aku diterima kuliah di slaah satu kampus. Tak pernah terpikirkan sebelumnya untuk menginjakan kaki di surabaya. Namun takdir membawaku sampai ke surabaya, bahkan 4 tahun lebih merasakan hiruk pikuknya kota ini. Aku diterima kuliah bersama Kisron, teman satu daerah dan satu SMK. suatu saat akan aku ceritakan mengenai dia. Minimnya pengalaman membuat kami harus mencari informasi sebanyak-banyaknya terutama untuk tempat tinggal sementara. Setelah mencari berbagai informasi, kami memutuskan untuk tinggal di asrama yang lokasinya bersebelahan dengan kampus. Alasan kami memilihnya karena lokasinya dekat dan kami pun tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk transportasi ke kampus.
    Awal perkuliahan terasa lumayan berat, karena belum terbiasa sehingga terasa seperti itu. Belum lagi ditambah kegiatan pengkaderan baik dari tingkat kampus maupun jurusan/himpunan. Hal ini membuat aku hampir berada di kampus setiap hari dan sampai malam. Tugas demi tugas silih berganti baik tugas kuliah ataupun pengkaderan. Tugas kuliah juga termasuk banyak mulai dari sebelum praktikum, sebagai syarat mengikuti praktikum dan setelahnya. Tapi dibalik itu semua membuat aku lebih berhemat untuk masalah transportasi karena tidak perlu pergi-pergi jauh. Walaupun sesekali juga tetap harus pergi agak jauh untuk sebuah acara ataupun sekedar diajak main oleh teman-teman. Teman kuliah sebagian besar berasal dari surabaya dan daerah sekitar yang tidak terlalu jauh. Kebanyak pula sudah memiliki kendaraan sendiri, sedangkan aku tidak ada. Tapi mereka semua juga baik-baik, jika akan bepergian pasti selalu memberikan tumpangan. Untuk sementara hanya ini yang bisa dilakukan, selain menghemat biaya juga karena transportasi umumnya lumayan susah.
    Beberapa bulan berikutnya Kisron membeli sepeda, kalau tidak salah merknya Jie Yang. Saat ada keperluan kadang aku meminjamnya untuk kendaraan. Namun kalau diingat-ingat tidak terlalu sering karena biasanya kalau pergi jaraknya lumayan jauh dan diminta untuk menumpang teman. Bagitulah hari-hariku selama hampir dua semester perkuliah di surabaya. Di semester berikutnya aku berpindah tempat tinggal, yaitu ke rumah kontrakan bersama beberapa teman dan kakak tingkat. Lokasi rumah ini lumayan dekat dengan kampus dan bisa ditempuh dalam waktu 15 menit jalan kaki. Penghuni rumah kontrakan terdiri dari berbagai jurusan sehingga jadwal kuliahnya berbeda-beda. Untuk menuju ke kampus aku biasanya jalan kaki saat berangkat ataupun pulang, kecuali saat ada jadwal yang sama biasanya dapat tumpangan gratis sampai ke kampus. 
    Selain perkuliahan aku juga mengikuti kegiatan ukm di kampus sendiri dan kegiatan di kampus lain. Selepas pulang kuliah biasanya aku tidak langsung pulang karena ada kegiatan baik itu ukm ataupun yang di luar kampus. Namun lebih sering aku main ke kampus sebelah untuk ikut kegiatan atau hanya sekedar nongkrong dan berkumpul dengan teman yang lain. Kegiatan ini aku lakukan hampir setiap hari bahkan sabtu atau minggu juga. Kegiatan ini sebagai salah satu hiburanku selama di surabaya karena memang jarang pulang. Biasanya aku pulang setiap libur akhir semester. Untuk menuju ke tempat berkumpul di kampus lain biasanya aku jalan kaki, menyusuri selasar gedung berbagai jurusan di kampus lain sampai ke tempat tujuan. Kampusku memang berdempetan dengan dua kampus lainnya. Biasnya kami berkumpul hingga malam dan aku harus pulang menuju rumah kontrakan lagi sendirian. Saat teman-teman sedang tidak sibuk biasanya aku akan diantar pulang walaupun berbeda arah tetapi mereka menggunakan motor.
    Setelah beberapa bulan berlalu, aku ditawari untuk menggunakan sepeda milik salah seorang teman. Sepeda itu ada di tempat teman yang lain karena sebelumnya memang dipinjam juga. Karena yang meminjam sudah ada motor jadi sepedanya sudah nganggur dan bisa aku ambil. Saat diambil kondisi ban kempes semua, alhamdulillah setelah diisi angin masih normal semua. Kondisi sepeda secara umum masih baik dan bisa digunakan dengan normal, hanya perlu mengganti ban luar sepeda karena sudah retak-retak. Setelah ada sepeda ini biasanya pergi kemana pun selalu aku bawa. Selain menghemat ongkos juga bisa menyehatkan badan jadi dua manfaat sekaligus yang didapatkan. Dengan sepeda ini juga akhirnya aku bisa menjelajah beberapa tempat di surabaya dan juga menemukan teman-teman baru yang hobi bersepeda. Sepeda pinjaman inilah yang menemaniku hampir dua tahun lebih di surabaya dengan berbagai kenangan manis maupun pahit. Suatu saat nanti akan aku ceritakan secara khusus tentang sepeda ini.

#menyususrisudutnegeri #28haribercerita
  • Share:

ARTIKEL TERKAIT

0 COMMENTS

LEAVE A COMMENT