Hari 3 : Sepedaku

    Judul kali ini mirip dengan yang kemarin. Setelah saya baca ulang ternyata tulisan kemarin menjelaskan tentang sepedaku yang kurang nyambung dengan judulnya. Tanpa sadar pula ternya baru satu paragraf yang berhasil aku tulis. Memang menulis itu susah harus terus dilatih. Sekarang akan aku lanjutkan ceritanya, biar tulisanku makin banyak dan target 28 hari menulisku tuntas. Sepeda selanjutnya yang aku pakai adalah sepeda mini yang ada keranjang di depannya. Sepeda ini milik kakakku yang kebetulan lebih sering aku pakai. sepeda ini aku pakai kisaran kelas 5 SD hingga SMP.
    Kebiasaan jalan kaki saat ke sekolah masih berlanjut ketika SMP, karena banyak kawannya juga. Lokasi sekolahku tak terlalu jauh karena berada di desa sebelah. Waktu yang diperlukan dari rumah ke sekolah sekitar 30 menit jalan santai. Kegiatan bersepedaku beralih setelah pulang sekolah ataupun saat hari libur. Beberapa kesempatan saat libur juga aku pakai untuk bersepeda agak jauh memutari beberapa desa di dua kecamatan. Menginjak kelas 8, jumlah anak yang bersekolah di SMP dari tempatku semakin berkurang. Anak-anak yang seusiaku memang sedikit dan yang lebih kecil luayan jauh terpautnya. Berhubung semakin sedikit yang jalan kaki dan sudah mulai ikut kegiatan ekstrakurikuler yang berbeda-beda menyebabkan jam pulang kami berda-beda. Dimulai dari sini, kegemaranku untuk bersepeda akhirnya muncul lagi.
    Sepeda menjadi salah satu pilihan transportasi karena lumayan cepat dan hemat. Mengingat lokasi rumah yang lumayan masuk sehingga kalo menggunakan transportasi umum juga harus berjalan dahulu. Daripada menggunakan transportasi umum(angkudes) mending sekalian jalan kaki sampai sekolah itung-itung hemat ongkos. Setelah dipikir lagi ternyata pilihan sepeda dimulai sejak semester genap kelas 7 karena kegiatan ekskul mulai berjalan. Saat berangkat biasanya sendirian dan akan bertemu rombongan lain setelah sampai di pertigaan pasar, karena mereka dari desa yang beda arah denganku. Begitu juga saat pulang, bahkan sudah sepi karena aku pulangnya sudah sore.
    Saat itu masih banyak anak-anak yang menggunakan sepeda sebagai transportasi ke sekolah. Semua parkiran penuh dengan sepeda, memang saat itu tidak diperbolehkan membawa motor selain masih jarang yang punya. Kalaupun ada yang bawa motor tidak akan parkir di sekolah. Ketika berangkat dan pulang, jalan dipenuhi dengan sepeda apalagi saat ditanjakan karena banyak yang dituntun. Salah satu keseruan juga disini saat bisa menaiki sepeda tanpa berhenti di tanjakan. Begitulah keseharianku hampir selama tiga tahun dan mulai terlupakan saat sudah masuk SMK.
    Saat pindah sekolah kebiasaan bersepeda mulai pudar. Hal ini disebabkan jarak ke sekolah yang lumayan jauh karena berada di pusat kota yaitu sekitar 18 KM. Awal masuk biasanya aku ikut kakakku karena tempat kerjanya searah dengan sekolah. Setelah kakaku pindah kerja akhirnya harus berpindah menggunakan transportasi umum yaitu bus. Ada dua pilihan bus yang bisa dipakai, sebenarnya satu tetapi ada satu lagi pilihan dan tidak selalu ada. Pilihan itu bus kecil yang lewat jalan desa, padahal bukan jalur dia tetapi karena kondekturnya orang daerah sekitar rumah(sebenarnya jauh) sehingga bisa lewat desaku. Untuk bus ini aku harus bersiap menunggu pukul 05.00 jika lebih 15 menit tidak terlihat berarti tidak akan lewat dan harus menuju ke terminal kecamatan dan ini adalah pilihan yang selalu ada.
    


#menyusurisudutnegeri #28haribercerita
  • Share:

ARTIKEL TERKAIT

0 COMMENTS

LEAVE A COMMENT